Selasa, 14 Juni 2011

Ekologi Hewan


—  EKOLOGI :
—  Salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari perihal antar hubungan pengaruh-mempengaruhi dan kesaling bergantungan antara organisme dengan lingkungannya.
—  EUGENE ODUM (1963)
—  EKOLOGI :Sebagai kajian tentang STRUKTUR dan FUNGSI Alam
—  KREBS (1972) EKOLOGI :Ilmu yang mempelajari interaksi-interaksi yang menentukan sebaran (distribusi) dan kelimpahan organisme-organisme. Dalam definisi ini faktor-faktor lingkungan telah secara implisit tercakup dalam pengertian interaksi
—  DARNELL (1971) EKOLOGI :Sebagai Ilmu yang berkaitan dengan tanggapan (respons) Makhluk, secara sendiri-sendiri dan dalam kelompok, terhadap faktor lingkungan, yang bertindak secara tunggal atau bersama-sama.
—  PERKEMBANGAN EKOLOGI HEWAN  :
—  Sebagai salah satu cabang ilmu ekologi, yang memusatkan materi bahasannya pada kelompok organisme berupa hewan, mencakup :
—   Distribusi serta kelimpahan populasi
—  Pengaturan fisiologi, respons dan adaptasi struktural dan perilaku terhadap perubahan lingkungan
—  Perilaku dan aktvitas hewan dalam habitatnya
—  Perubahan berkala, kehadiran, aktivitas hewan
—  Dinamika populasi dan komunitas dan interaksi
—  Pemisahan-pemisahan relung ekologi
—  Produktivitas dan eko-energetika
—  Ekologi sistem dan permodelan ekologi
EKOLOGI HEWAN sebagai ILMU
—  Ekologi sebagian besar berkepentingan dengan populasi, dan komunitas
—  Populasi menyatakan sekelompok organisme
—  Komunitas menyatakan semua populasi yang berdiam suatu tempat
—  Perkembangan ekologi menurut sejarah, ekologi hewan kebanyakan adalah menyangkut Populasi dan
—   ekologi tumbuhan kebanyakan menyangkut komunitas.
Aspek Terapan Ekologi Hewan
—  Berbagai konsep dan asas dalam ekologi hewan sejak lama memberikan nilai-nilai terapan dalam kehidupan manusia, menyangkut pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan serta kesehatan dan pengelolaan maupun konservasi satwa liar.
—  Konsep KISARAN TOLERANSI dan FAKTOR PEMBATAS banyak diterapkan dalam pertanian, dan perkebunan, peternakan dan perikanan bahkan masalah pengendalian populasi hama.
HEWAN DAN LINGKUNGANNYA
—  HUBUNGAN HEWAN DAN LINGKUNGAN BERSIFAT TIMBAL BALIK
—  SETIAP HEWAN HANYA DAPAT SURVIVED (SINTAS), TUMBUH DAN BERKEMBANGBIAK DALAM SUATU LINGKUNGAN YANG MENYEDIAKAN KONDISI YANG COCOK BAGINYA, KUALITAS DAN KUANTITAS SUMBERDAYA YANG DIPERLUKANNYA, SERTA TERHINDAR DARI FAKTOR-FAKTOR ABIOTIK DAN BIOTIK YANG MEMBAHAYAKAN.
KONDISI DAN SUMBER DAYA LINGKUNGAN
—  Faktor –faktor lingkungan hewan , baik yang bersifat abiotik maupun biotik dapat ditinjau dari dua aspek fungsional yang berbeda adalah :
—  1. Lingkungan sebagai kondisi
—  2. Lingkungan sebagai sumberdaya
—  Istilah Kondisi Lingkungan terutama digunakan untuk menunjukkan suatu :
—  Besaran, kadar ataupun intensitas faktor-faktor  abiotik dari lingkungan misalnya : Suhu, pH, Kelembaban, kandungan oksigen, dll
—  Istilah sumberdaya digunakan untuk menunjukkan sesuatu faktor  abiotik misalnya ruang,  maupun biotik misalnya mangsa yang diperlukan oleh hewan.
—  Ketersediaanya di lingkungan akan menjadi berkurang bila telah dimanfaatkan
—  Hewan dalam kondisi hidupnya akan menempati kondisi sumberdaya lingkungan yang TIDAK KONSTAN, melainkan BERVARIASI menurut ruang (tempat) dan waktu. Lingkungan yang konstan hanya mungkin dijumpai di bagian dalam samudera, tanah dan digua-gua yang gelap.
—  Perubahan Lingkungan menurut waktu secara garis besar  terdiri dari tiga macam :
—  Bersifat  SIKLIK
—  TERARAH
—  TAK MENENTU (ERATIK)
—  PERUBAHAN SIKLIK
—  Suatu perubahan yang terjadi berulang secara berirama, seperti : malam dan siang, laut pasang dan surut, musim kemarau dan musim penghujan dan lain sebagainya
—  PERUBAHAN TERARAH
—  Suatu perubahan yang terjadinya berangsur-angsur, secara terus-menerus dan progresif menuju ke suatu arah tertentu.
—  Proses berlangsungnya lama, melebihi panjang umur individu hewan yang hidup di lingkungan itu.
—  Contoh :  Terjadinya erosi progresif garis pantai atau pengendapan lumpur di estuaria.
—  PERUBAHAN ERATIK
—  Suatu perubahan yang tak berpola dan tidak menunjukkan konsistensi mengenai arah perubahnnya.
—  Contoh : Terjadinya banjir ataupun kebakaran hutan
—  KARENA KETERSEDIAAN SUMBERDAYA MERUPAKAN FUNGSI DARI RUANG DAN WAKTU YANG BERBEDA-BEDA CORAKNYA, MAKA UNTUK MENDAPATKAN SESUATU SUMBERDAYA TERTENTU, HEWAN MELAKUKAN STRATEGI TERTENTU PULA YANG MUNGKIN BERBEDA DENGAN SUMBERDAYA LAIN
—  HEWAN SEBAGAI ORGANISME HETEROTROF
—  Hewan merupakan organisme HETEROTROF, karena tidak dapat mensisntesis materi organik dan energi (makanannya), dari sumberdaya lingkungannya yang berupa substansi-substansi anorganik. Heterotrof telah menyebabkan kehidupan hewan secara langsung ataupun tak langsung sangat bergantung pada tumbuh-tumbuhan.
—  Dalam dunia HEWAN dikenal 3 macam NUTRISI Heterotrof:
—  Holozoik, Saprozoik dan Parasitik.
—  NUTRISI HOLOZOIK
—  Dalam nutrisi tipe ini makanan, baik yang berupa tumbuhan ataupun jenis hewan lain, pertama-tama harus dicari dan didapatkan dulu, baru kemudian dimakan untuk selanjutnya dicerna sebelum dapat diabsorbsi dan dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh hewan. Untuk mencari dan mendapatkan perlu peranan berbagai struktur indera, saraf serta mekanisme otot.  Selanjutnya untuk mengubah substansi makanan itu ke dalam bentuk yang dapat diabsorbsi, diperlukan peranan mekanisme pencernaan
—  NUTRISI SAPROZOIK
—  Dijumpai pada Hewan Protozoa, yang memperoleh nutrien-nutrien organik yang diperlukannya dari organisme-organisme yang telah mati, membusuk dan mengurai.  Nutrien-nutrien tersebut diabsorbsi melalui membran sel dalam bentuk molekul-molekul terlarut.
—  SUHU
—  Sebagai salah satu faktor lingkungan yang utama, suhu memberika efek yang berbeda-beda pada organisme-organisme di bumi ini.
—  Variasi suhu lingkungan alami dapat ditinjau dari berbagai segi, misalnya dari sifat sikliknya (harian, musiman) dari kaitannya dengan letak tempat di garis lintang bumi atau ketinggian di atas permukaan laut dan kedalaman.
—  Disamping itu dikenal variasi suhu alami dalam hubungan yang lebih akrab dengan organisme (Mikroklimatik).
—  Terjadinya perubahan dari musim yang satu ke musim yang lain erat kaitannya dengan berubahnya posisi poros bumi relatif terhadap posisi matahari sebagai sumber panas lingkungan.
—  Berdasarkan hukum fisika organisme dapat memperoleh panas dari lingkungan atau mengeluarkan panas ke lingkungan.
—  Panas yang dihasilkan organisme merupakan salah satu produk dari proses-proses metabolisme dalam tubuh dan panas inilah yang merupakan sumber kemampuan organisme mengatur suhu tubuhnya
—  Suatu klasifikasi yang didasarkan atas corak hubungan antara suhu tubuh hewan dengan suhu lingkungannya, memilah dunia hewan atas kelompok hewan POIKILOTERM dan HOMEOTERM
—  Hewan POIKILOTERM suhu tubuhnya berubah-ubah mengikuti dan selaras dengan suhu lingkungannya
—  Hewan HOMEOTERM suhu tubuhnya relatif konstan meskipun suhu lingkungan berubah-ubah, hal ini karena hewan ini mempunyai kemampuan untuk mengatur suhu tubuh secara fisiologis.
—  EKTOTERMI
—  Hewan-hewan POIKILOTERM, yaitu semua jenis hewan kecuali yang termasuk kelompok aves  dan Mamalia, merupakan hewan EKTOTERM.
—  Ini berarti bahwa hewan-hewan tersebut sangat bergantung pada sumber panas dari lingkungannya.
—  Kemampuan mengatur suhu tubuhnya sangat terbatas sehingga suhu tubuh bervariasi mengikuti suhu lingkungannya.
—  Konsep Waktu-Suhu
—  Dari Sudut Pandan Ekologi ;
—  Suhu lingkungan bagi hewan-hewan ektoterm tidak hanya berkaitan dengan aktivitasnya saja tetapi juga mengenai pengaruh terhadap laju perkembangannya.
—  Dalam suatu kisaran suhu tertentu antara laju perkembangan dengan suhu lingkungan terdapat hubungan linier.
—  Apabila diketahui mis : bahwa suhu ambang terjadinya perkembangan pada jenis belalang adalah 16 0C, dan pada suhu 20 0 C yaitu 4 0C diatas suhu ambang, lama perkembangan telur untuk menetas adalah 17.5 hari. Maka pada suhu 30 0C lama waktunya menetas 5 hari
—  ENDOTERMI
—  Hewan-hewan Homeoterm, seperti kelompok aves dan mamalia dalam kondisi suhu lingkungan berubah-0ubah, suhu tubuhnya konstan. Sebabnya karena hewan-hewan itu mempunyai daya yang tinggi untuk mengatur suhu tubuhnya melalui perubahan produksi panas (laju metabolisme) dalam tubuhnya sendiri (Endoterm).
—  KISARAN TOLERANSI DAN FAKTOR PEMBATAS
—  PERILAKU NALURIAH
—  Secara umum perilaku naluriah didefinisikan sebagai suatu perilaku yang rumit, khas spesies, terstereotipe, herediter dan terjadinya secara otomatis oleh induksi stimulus tertentu yang tepat.
—  BELAJAR
—  PENGKONDISIAN,
—  PEREKAMAN,
—  MENIRU,
—  COBA-COBA,
—  MENALAR.
•       HABITAT SECARA UMUM MENUNJUKAN BAGAIMANA CORAKNYA LINGKUNGAN YANG DITEMPATI POPULASI HEWAN, atau SERING DIIBARATKAN SEBAGAI “alamat” DARI POPULASI HEWAN
•       RELUNG EKOLOGI MENUNJUKKAN DIMANA DAN BAGAIMANA KEDUDUKAN POPULASI HEWAN ITU TERHADAP BERBAGAI FAKTOR ABIOTIK DAN BIOTIK LINGKUNGANNYA, atau diibaratkan sebagai PROFESI di alamat itu.
Habitat (biotop) suatu Populasi Hewan :
Pada dasarnya menunjukkan totalitas corak lingkungan yang ditempati populasi itu. Tercakup  disini faktor-faktor abiotik berupa ruang, tipe substratum atau medium yang ditempati, cuaca dan iklimnya serta vegetasinya
•       TIPE HABITAT MENURUT WAKTU
•       TIPE HABITAT MENURUT RUANG :
•       MIKROBABITAT
Menurut : Kendeigh, (1963):
Relung ekologi suatu (populasi, spesies) hewan adalah status fungsional hewan itu dalam habitat yang ditempati berdasarkan adaptasi-adaptasi fisiologis, strukturalnya dan perilakunya
•       Asas Eksklusi Persaingan dan Pemisahan Relung
•       Aturan Gause atau Asas Eksklusi Persaingan :
•       SATU SPESIES SATU RELUNG
•       Konsepnya : Suatu Relung Ekologi Tidak dapat ditempati secara simultan dan sempurna oleh populasi stabil lebih dari satu Spesies.
•       Asas Koeksistensi :
•       Beberapa Spesies yang dapat hidup secara langgeng dalam habitat yang sama ialah spesises-spesises yang relaung ekologinya berbeda atau terpisah. Itu berarti menunjukkan adaptasi yang berbeda-beda
•       Asas DIVERGENSI :
•       Darwin (1859):
•       Makin besar perbedaan-perbedaan yang diperlihatkan berbagai spesises yang hidup di suatu tempat, makin besar pula jumlah spesises yang dapat hidup bersama di tempat itu.
•       Materi 7-8
•       Sebagai Organisme yang bersifat HETEROTROF, maka hewan selalu menggantungkan sumber makanannya pada organisme-organisme lain, baik berupa tumbuhan, jenis hewan lain ataupun materi organik produk organisme-organisme itu.
•       Karena itu masalah makanan pada hewan-hewan merupakan masalah interaksi spesies hewan-tumbuhan atau hewan-hewan.
•       MAKANAN HEWAN
•       Palatabilitas “Kelezatan”
•       Palatabilitas atau Kelezatan makanan sangat ditentukan oleh banyak sedikitnya kandungan senyawa-senyawa kimia tertentu
(alkaloid, fenol-fenol, dll)
Senyawa-senyawa itu ada yang bersifat Toksik, atau meransang di luar kisaran toleransi hewan. Selain itu ada struktur-struktur yang menggangu, seperti bulu dan durinya atau lapisan kulit dari makanan hewan. Karena itu  kebanyakan hewan herbivor menunjukkan preferensi yang tinggi terhadap bagian tumbuhan yang lunak; pucuk, daun muda yang nilai palabilitanya tinggi
•       Nilai Gizi
•       Nilai Gizi makanan tergantung dari komponen dan banyaknya kandungan air, mineral-mineral, vitamin-vitamin, protein, karbohidrat dan lemak dalam makanan itu.
•       Seandainya kekurangan komponen yang diperlukan itu berupa protein, dan hewan tidak dapat mengatasinya, maka hewan akan mengalami cekaman fisiologis.
•       Daya Cerna
•       Pemanfaatan makanan yang bernilai gizi tinggi oleh tubuh hewan sangat ditentukan oleh daya cerna. Daya cerna makanan ditentukan oleh bagaimana komposisi kimiawi dan rangka struktural makanan itu, serta bagaimana pula adaptasi-adaptasi fisiologis dan adaptasi struktural sistem pencernaan makanan hewan yang memakanannya. Misalnya hewan herbivor memerlukan enzim selulase, hewan karnivor enzim protease dan hewan omnivor memerlukan perangkat enzim pencernaan yang lebih engkap.
•       Ukuran Makanan
•       Ukuran makanan, baik yang berupa organisme lain atau potongan materi organik bagi hewan-hewan herbivor, parasit ataupun saprovor, tidak merupakan masalah dalam memperoleh dan menanganinya.
•       Tidak demikian halnya bagi hewan-hewan karnivor (predator, pemangsa) yang makanannya berupa hewan lain.
•       STRATEGI MENCARI MAKAN
•       Menurut teori MENCARI MAKAN OPTIMUM
•       Strategi hewan dalam mencari makan ialah mendapatkan perolehan semaksimal mungkin dengan resiko seminimal mungkin
•       Jaring-jaring Makanan Hewan
•       Membuat Tugas Mandiri Setelah praktek
•       Buatlah suatu contoh tentang hubungan makan-memakan sesama hewan pada suatu ekosistem atau dalam satu komunitas
DEFINISI
POPULASI, didefiniskan sebagai himpunan individu-individu suatu spesies organisme yang terdapat di suatu tempat pada
suatu waktu
Dari definisi di atas tampak bahwa satuan terkecil pembangun populasi adalah INDIVIDU.
Ciri-ciri Dasar Populasi
Ciri-ciri Biologi
Ciri-ciri Statistik
Kelimpahan dan Kerapatan Populasi
Tinggi rendahnya jumlah individu populasi suatu spesies hewan menunjukkan besar kecilnya ukuran populasi atau tingkat kelimpahan popuasi itu
Kerapatan atau kepadatan populasi suatu spesises hewan adalah rata-rata jumlah individu per satuan luas area (m, Ha, Km, dsb) atau per satuan  volume medium (per cc, liter, air, dsb) atau per satua berat medium tempat hidup (per g, kg, tanah, dsb).
 Dalam hal-hal tertentu kerapatan lebih memberikan makna bila dinyatakan persatuan habitat atau mikrohabitat.
Misalnya, sekian individu cacing usus per individu inang, sekian individu larva Dacus sp, sekian individu wereng per rumpun padi, dll
Intensitas dan Prevalensi
Ditinjau secara lebih luas, kelimpahan populasi sesuatu spesies mengandung dua aspek yang berbeda :
Aspek intensitas, menunjukkan aspek tinggi-rendahnya kerapatan populasi dalam area-area yang dihuni spesises.
Aspek prevalensi, menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati spesises dalam konteks daerah yang lebih luas
Penyebab Kelangkaan
Suatu spesies yang terlokalisasi dan intensitasnya rendah dikategorikan sebagai Sepies LANGKAH
Kelangkaan suatu spesies dapat diakibatkan oleh satu atau beberapa penyebab :
1. Area yang dihuni spesies menjadi sempit atau jarang
2. Tempat-tempat yang dapat dihuni spesies hanya cocok-huni dalam waktu yang singkat saja
3. Tempat-tempat yang secara potensial dapat dihuni, menjadi tidak dapat ditempati akibat kehadiran spesies lain yang merupakan pesaing, parasit atau predator
4. Dalam area yang dapat dihuni, ketersediaan sumber daya penting seperti makanan dan tempat untuk berbiak secara aman menjadi berkurang
5. Variasi genetik spesies relatif sempit sehingga kisaran tempat yang dapat dihuninya terbatas
6. Plastisitas fenotip individu-individu spesies rendah, sehingga kisatran tempat yang dapat dihuninya terbatas
7. Kehadiran populasi spesies lain yang merupakan pesaing, predator dan parasit menekan tingkat kelimpahan populasi spesies hingga rendah sekali, jauh di bawah tingkat kelimpahan yang sebenarnya dimungkinkan oleh ketersediaan sumberdaya.
Pengukuran Tingkat Kelimpahan Populasi
Cara mengukur atau cara membuat taksiran (estimasi) kelimpahan populasi suatu spesies hewan banyak macamnya. Faktor penentu penting dalam pengukuran, Harus dilihat apa Tujuan dan keperluan pengukuran, ukuran tubuh hewan dan mobilitas serta perilaku umumspesies hewan yang diselidiki. Selain ketersediaan waktu dan tenaga serta ketrampilan pelaksanaan pengukuran.
Metode-metode Pengukuran
Metode Cuplikan Kuadrat
Metode Menangkap-Menandai-Menangkap Kembali
(Capture-Mark-Recapture Method)
Metoda Lincoln-Petersen
Dalam bentuk yang paling dasar dan sederhana mencakup dua kali pencuplikan.
Semua individu hewan yang diperoleh dari pencuplikan kesatu ditandai, lalu dilepaskan kembali dan jumlahnya dicatat.
Setelah selang waktu tertentu yang tidak memberikan peluang timbulnya individu-individu baru hasil perbiakan- dilakukan penangkapan kembali (pencuplikan kedua) di area yang sama secara acak
Maka Taksiran besar populasi yang di cari :
Taksiran Besar Populasi ( N ):
Indeks Linoln-Petersen :
                                     n M                M2.n(n-m)
                       ^N =  --------- +  √ -----------------
                                       m                    m 3
Dimana :M =Jumlah yg dicatat
                 n = Jumlah hasil penangkapan kedua
                 m = jumlah yang bertanda
Asumsi-asumsi Pokok dalam Metoda
Menagkap-Menandai-Menangkap-Menandai kembali.
1. Individu-individu yang bertanda maupun tak bertanda peluangnya sama untuk ditangkap secara acak
Tanda yang digunakan tidak hilang dan dapat dikenali selama periode pengamatan
Laju kematian pada individu-individu bertanda tidak berbeda dengan individu-individu yang tidak bertanda.
Metoda Pemindahan
Metoda Pemindahan atau Penghilangan meliputi pencuplikan (penangkapan) yang dilakukan beberapa kali dengan cara sama. Pada setiap kalinya, individu-individu hasil penangkapan dihilangkan dari populasi.
Asas yang mendasari metoda ini ialah, jumlah individu yang tertangkap dan diambil pada setiap kali penangkapan akan mempengaruhi penagkapan-penangkapan berikutnya.  Laju berkurangnya hasil penangkapan itu akan proporsional terhadap jumlah total dalam populasi.
Penentuan Kelimpahan Relatif
  1. Penggunaan Perangkap, yang bermacam-macam tipenya. Misalnya, perangkap jebak, perangkap cahaya, perangkap hidup yang menggunakan umpan atau yang tidak, dll.
      Jumlah individu hasil tangkapan berkorelasi dengan tingkat kelimpahan populasi, populasi aktivitas hewan dan daerah jelajah hewan serta efektivitas perangkap yang digunakan. Indeks kelimpahan dinyatakan dalam purata jumlah individu per satuan waktu per perangkap.
2. Penggunaan jala , baik yang berupa jala serangga, jala tebar, jala kabut, dll
3. Penghitungan pelet tinja (yang relatif baru) dari misalnya bangsa rusa, kijang, kelinci, tikus, kambing, dsb. Bila jumlah total pelet segar di suatu area dan juga purata laju produksinya (laju defekasi) per individu per satuan waktu diketahui, maka kerapatan atau kelimpahan absolutnya dapat ditaksir melalui perhitungan.
4. Penghitungan hasil tangkapan per satuan usaha. Misalnya indeks kelimpahan ikan di laut pada suatu perioda dapat dinyatakan dalam berat atau jumlah ikan per 100 jam memukat dengan satu kapal pukat.
5. Penghitungan jumlah artefak, dengan hal ini indeks kelimpahan ditaksir dari penghitungan jumlah “tanda bukti” atau jejak hasil aktivitas hewan, misalnya yang berupa sarang, lubang, cerobong, bekas garukan, kepompong kosong, dsb.
6. Penghitungan frekuensi vokalisasi; di sini indeks kelimpahan dinyatakan dalam angka frekuensi bunyi atau teriakan per satuan waktu. Misalnya, vokalisasi berjenis-jenis kera, bajing, burung, dsb.
7. Sensus tepi jalan (“roadside count”), misalnya dengan mencacah jumlah kera, burung dan hewan yang agak besar lainnya yang tampak di kiri-kanan jalan sejarak tertentu, yang dilalui dengan berjalan ataupun berkendaraan (mobil, perahu, dll)
8. Pengukuran daya makan; misalnya, perubahan kelimpahan populasi diukur dari perubahan banyaknya umpan yang dimakan (tikus, kelinci, dll)
9. Penggunaan manusia sebagai umpan; misalnya untuk menentukan kelimpahan relatif nyamuk, jumlah nyamuk (betina) yang hinggap dan menggigit lengan selama rentang waktu tertentu dihitung. Indeks kelimpahan yang diperoleh secara berkala dalam rentang waktu lama, dapat memberikan informasi yang penting mengenai pola perubahan kelimpahan populasi nyamuk itu.
10. Pengisian kuesioner, misalnya oleh para pemburu, pengail, penjerat, dsb, mengenai jumlah hasil buruan dan tangkapan (yang dilakukan dengan cara yang sama, dalam rentang waktu yang sama). Hasil kuesioner yang cukup andal dapat memberikan informasi mengenai perubahan-perubahan besar yang terjadi pada kelimpahan populasi hewan.
•       INTERAKSI POPULASI
•       Populasi dua spesies dapat berinteraksi, yang pada dasarnya seperti gabungan antara ; interaksi yang tidak ada/tidak bermakna, menunjukan interaksi pertumbuhan, kelangsungan kehidupan, atau sifat populasi lain yang menguntungkan, dan atau interaksi yang sifatnya menunjukkan pertumbuhan  yang terhambat
Interaksi populasi dapat dibedakan menjadi :
•       Interaksi Negatif dan Interaksi Positif
•       Ada 2 Prinsip yang perlu diperhatikan mengingat kedua kategori di atas :
•       1. Dalam evolusi dan perkembangan ekosistem, maka interaksi negatif cenderung diminimumkan sehingga memberi jalan untuk simbiosis positif yang memungkinkan kelangsungan kehidupan spesies yang berinteraksi,
•       2.Asosiasi masa kini atau yang baru, lebih mengembangkan koaksi negatif yang ganas daripada asosiasi yang lama.
•       TIPE INTERAKSI
1.NEUTRALISME :
•       Kedua populasi tidak saling mempengaruhi
2. KOMPETISI TIPE INTERFERENSI LANGSUNG
Hambatan langsung tiap=tiap spesies oleh spesies lainnya
3. KOMPETISI TIPE PEMANFAATAN SUMBERDAYA
Hambatan tidak langsung bila sumber daya yang digunakan bersama tersedia tidak banyak
4. AMENSALISME :
Populasi yang satu dihambat, dan populasi kedua tidak terpengaruh
5. PARASITISME :
Populasi yang satu sebagai parasit biasanya lebih kecil daripada populasi kedua yang adalah hospernya
6. PEMANGSAAN :
Populasi yang satu sebagai pemangsa umumnya lebih besar daripada mangsanya
7. KOMENSALISME :
Populasi yang satu sebagai komensal memperoleh keuntungan, sedangkan populasi yang kedua hospes tidak terpengaruh oleh populasi yang satu
8. PROTOKOPERASI :
Interaksi menguntungkan kedua belah pihak tetapi tidak merupakan keharusan (Obligatory)
9. MUTUALISME :
Interaksi menguntungkan kedua belah pihak dan merupakan keharusan

Jumat, 06 Mei 2011

Ekologi Hewan

1. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi2 yang menentujan sebaran, dan kelipahan organisme2 (krebs)
Batasan, mengenai Individu, populasi, dan komunitas maupun system ekologis yang ditempatinya.

2. poikiloterm : hewan2 dmna suhu tubuhnya berubah-ubah mengikuti dan selaras dengan lingkungannya.
    Homeoterm : Suhu tubuhnya relative konstan meskipun suhu lingkungan berubah-ubah.

3. Hk. Toleransi shelford : Setiap organism mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari  kisaran toleransi organism itu terhadap kondisi factor lingkunganya.

5. Aturan Bregmann : Individu2 hewan yang hidup di daerah yang bersuhu tinggi, cenderung mempunyai tubuh yang berukuran lebih kecil, di badingkan dengan kerabat2nya yang hidup di daerah bersuhu rendah

7. Habitat adalah : totalitas corak lingkunga yang di tempati suatu populasi.  Termasuk factor abiotik berupa ruang, medium yang di tempati, cuaca, iklim serta Vegetasinya. Sedangkan relung adalah : status fungsional hewan tsb dalam habitat yang di tempatinya berdasarkan adaptasi fisiologis, structural dan perilakunya.

8. aturan Cause : suatu relung ekologi tidak dapat di tempati secara simultan dan sempurna oleh populasi stabil lebih dari satu species. Satu species, satu relung.

10.  3 respon dasar hewan :
          1. Respon pengaturan : Berlangsung singakat, dalam hitungan detik, menit, jam bersifat reversible
          2. respon penyesuaian : Berlangsung lebih lama : dalam hitungan hari/minggu bersifat reversible
          3. Respon Perkembangan : Berlangsung relative paling lama, tergantung dari lamanya perkembangan hewan. Bersifat Ireversible/ tidak reversibl.

Rabu, 04 Mei 2011

STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN 2

Fertilisasi

Diikuti oleh 3 tahap berurutan;
Tahap pertama :
Pembelahan (cleavage) menciptakan embrio multiseluler atau BLASTULA dari zigot.
Tahap kedua :
Gastrula menghasilkan embrio berlapis tiga
Tahap ketiga :

Organogenesis.
Pembelahan adalah suksesi  pembelahan sel secara cepat  yang terjadi setelah fertilisasi

Selama pembelahan sel mengalami fase S (sintesis DNA) dan fase M (mitosis) siklus sel.

Pembelahan hanya membagi-bagi sitoplasma  satu sel besar  (Zigot) menjadi banyak sel yang disebut BLASTOMER yg masing2 dgn nukleusnya sendiri.

Pembelahan secara terus-menerus menghasilkan sebuah bola sel padat  :Morula.

Suatu rongga yang penuh cairan  yg disebt BLASTOSEL terbntk didlm morula, dan
Menghslkan tahapan perkembangan  bola berlubang disbt BLASTULA
Pembelahan meroblastik adalah pembelahan tidak sempurna pada sel telur yg kaya kuning telur

PEMBELAHAN HOLOBLASTIK adalah pembelahan sempurna  sel telur yg mempunyai sedikit kuning telur  sprt pd Bulu babi  dan kuning telur sedang sprt pd Katak.

Blastula
Proses pembentukan blastula disebut blastulasi
Dalam proses pembentukan blastula  ada beberapa pengertian yang harus diketahui
Peta takdir ;  dilakukan dengan teknik pewarnaan vital untuk menetapkan  daerah-daerah pada lapisan permukaan blastula. Daerah –daerah tersebut nantinya akan berkembang  menjadi ektoderm,meoderm, entoderm, notokorda dan daun saraf.

Diferensiasi :
Digunakan untuk  menyatakan  dimana sebuah atau sekelompok sel mengalami pembaharuan  bentuk atau fungsi (hal 66)

Potensi:
Kesanggupan sel atau kelompok sel untuk berdiferensiasi (hal 66)
Hasil pembelahan berup kelompok balstomer  yang berbentuk seperti buah murbei disebut morula.

Adakalanya blastula dapat dibedakan dengan morula karna pada
blastula ada rongga yg disebut blastosoel.  (hal60)

Berdasarkan ada tidaknya  sel tropoblas maka dibedakan :
  1. Blastula tidak bertropoblas (amphioksus, katak)
  2. Blastula bertropoblas  (ikan elasmobrankii, ikan teleos, reptilia,  bangsa burung dan mamalia) dapat dibedakan dua macam sel
        - Sel utama yang akan membentuk tubuh embrio
        - sel-sel pelengkap  yg berfungsi sebagai selaput pelindung dan merupakan jembatan penghubung  antara induk/ling. dgn embrio. Hal 60)

Gastrulasi
Setelah tahap blastula maka tahap selanjutnya  atau perkembangan nya diebut gastrula.

Gastrula berasal dari kata gastrum  berarti lambung.
•      Proses  pembentukan ketiga daun kecambah yaitu 
Ektoderm,mesoderm dan entoderm.(hal 183) bio 3)
 Gastrulasi erat skali dengan pembentukan susunan saraf (neurolasi), penjelmaan bentuk primitif dan merupakan periode kritis perkembangan.(hal 70 )
Hasil penting gastrulasi adalah  beberapa  sel pada permukaan blastula berpindah kelokasi baru yang lebih dalam.
Catatan : poses perkenbangan dari bastula dan gastrula pada beberapa hewan berbeda (Tugas masing)

Implantasi
Proses bersarangnya blastosis  didalam rahim, sehingga terjadi hubungan antara selaput ekstr a embrionik dan selaput lendir rahim.
  1. Jenis implantasi
  2. Proses implantasi
  3. Sebaran blastosis (hal 89-92 dan hal  184)

Perkembangan selaput ekstra embrional
Selaput ekstra embrional atau selaput fetus  berkembang dan berfungsi pada kehidupan pra lahir. Selaput ini tidak menjadi bagian dari tubuh embrio, tapi dikeluarkan  dari tubuh embrio pada waktu partus. Selaput tersebut terdiri dari :
  1. Kantung kuning telur
  2. Kantung amnion
  3. Korion
  4. alantois

Plasenta
(hal 98)
Suatu system yang terdiri dari 2 komponen, yaitu selaput ekstra embrionik dan selaput lender rahim yang berintegrasi mjd satu kesatuan untuk keperluan timbale balik faali antara induk dan fetus, bias juga menghasilkan hormone

Plasenta induk adalah endormertrium rahim
Plasenta fetus adalah selaput karioalantois.

Siklus kelamin,
Dewasa kelamin : suatu keadaan yang menunjuka bahwaalat kelamin sudah mulai berfungsi untuk menghasilkan sperma atau seltelur.

Hormone FSH (follicle stimulating hormone) dibebaskan kedalam peredaran darah menjelang puberitas sehingga sehingga alat perkembangbiakan berkembang.
Estrogen bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan alat perkembangbiakan.

ESTRUS
Adl suatu keadaan yang menunjukan bahwa seekor hewan betina menunjukan keinginan berkelamin secara menonjol.
-       Berlangsung secara periodic sejak hewan mencapai masa kelamin sampai menopause,
-       Periode bangkinya birahi – kebangkit birahi berikutnya disbt siklus birahi atau siklus kelamin.
-       Pada mamalia siklus kelamin kompleks yi td siklus ovarium, siklus tuba fallopoi, siklus kelenjar ambing, siklus rahim dan siklus vagina
-       Hewan yang menunjukan 1 periodik birahi setahun disebut monoestrus ( serigala)
-       Dalam setahu 2 kali birahi dsbt Diestrus ( anjing dan kucing )
-       Lebih dari 2 kali setahun disebut poliestrus.

PERIODE SIKLUS BIRAHI

1. proestrus
2. Estrus
3. disestrus
4. anestrus


HORMONE PERKEMBAGBIAKAN
1. hormone kelenjar hipofisa
Kelenjar hipofisa terletak pada lantai otak tengah.
Gelambir anterior menghasilkan 3 hormon Gonadotropik
-       FSH (follicle Stimullating hormone)
-       LH (luteinizing Hormon)
-       LTH(Luteotropic hormone)

2. Hormone kelenjar Ovarium
2 macam :
-       Estrogen : dihasilkan oleh sel2 granulosa follicle de graaf.hormon ini menyebabkan pertumbuhan alat perkembangbiakan, seperti siklus rahim, siklus vagina dan siklus kelenjar ambing, timbulnya gejala birahi dan siklus menstruasi pada manusia.
-       Progesterone : dihasilkan oleh sel2 corpus luteum, disamping plasenta dan korteks kelenjar adrenal
3. hormone plasenta

-       Selama kebuntinganplasenta berkembang menjadi alat tubuh endoktrin
-       Plasenta mengambil alih fungsi tertentu kelenjar hipofisa dan ovarium sehingga kebuntingan bias dipertahankan jauh melebihi batas siklus rahim.

Minggu, 01 Mei 2011

LUMUT DAUN
Funaria Hygrometrica
Anatomi Pucuk Daun
Perkembangan Seksual
Sporofit
Protonema
LUMUT DAUN
Kelas (musci) merupakan kelas yang lebih besar dari dua kelas yang membentuk bryophita.
Funaria hygrometrica yang paling tepat mewakili lumut daun
Funaria hygrometrica
1 Membentuk jambul (tuft) yang padat,
2 Jika dipecah, jambul funaria itu akan tampak suatu agregat padat dari batang-batang pendek, tegak dan ramping dengan daun-daun tersusun seperti spiral (gbr 3.6a)
3 Bagian atas daun dan batang berwarna cerah, tetapi bagian bawah pucuk berwarna coklat sebab terlindung dari cahaya
Funaria hygrometrica
4 Daun berbentuk bulat lonjong (oblong ovate), berujung lancip (acute) dan berpangkal lebar merupakan tempat menempel pada batang
5 Sepanjang garis tengah daun ada tulang tengah yang jelas (tidak bercabang)
6 Makin dekan ke ujung batang daun makin besar
7 Pada tumbuhan dewasa daun-daun tersebut mengellilingi alat kelamin yang berkembang di ujung tersebut.
8 Batang jarang bercabang karena setelah tbhn muda muncul yang tua mati.
Funaria hygrometrica
9 Tidak berakar, akar berupa rizoid dengan sel banyak dan bercabang. (3 tingkat )
10 Pertumbuhan pucuk daun terjadi karena kegiatan sebuah sel ujung dengan bentuk segi empat mirip piramida terbalik
11 Pembelahan sel miosis pada sel ujung ini diikuti dengan pembentukan sebuah dinding sel baru. Pada setiap pembelahan akan terbentuk sel baru yang ceper yang akan tumbuh sebesar sel asal (gbr. 3.6c)
Funaria hygrometrica
12 Sel-sel derivat membelah diri membentuk seluruh sistem pucuk
ANATOMI PUCUK BERDAUN
Daun berupa jaringan berbentuk piringan ceper dan pipih setebal satu sel, kecuali pada tulang daun.
Bagian daun berisi sel-sel besar berdinding tipis yang terisi kloroplas yang jelas dan berbentuk bulat telur (gbr.3.6d).
Tulang tengah setebal beberapa sel dan strukturnya kompleks. Pada penampang melintang tampak dua macam sel, satu macam berdinding tipis, satu tebal.
Batang funaria menjadi 3:
Satu bagian epidermis superfisial; setebal satu sel, hijau, tanpa stomata.
Sebuah korteks tebal; tersusun atas beberapa lapisan parenkima. Sel terluar korteks memiliki dinding lebih tebal dari dalam.
Sebuah jalur tengah; jalur tengah terdiri sel-sel sempit, memanjang, dan berdinding tipis dimana protoplas berdegenerasi selama perkembangan.


Jalur air (sistem penyaluran)
Kebutuhan air melalui gabungan dua jalur; dalam dan luar. Penyaluran dalam lewat rizoid ternyata sangat lambat (10 sel dilalui dengan 40 jam). Pangkal batang memperoleh air dengan gerakan kapiler. Setelah berada dalam batang, air mengalir ke atas melalu jalur tengah, tapi tidak disalurkan ke daun (memperoleh air dari luar melalui saluran kapiler oleh daun yang bertumpang tindih). Jaringan tulang daun tidak berhubungan dengan jalur tengah batang, berakhir bntu pada korteks luar. Efisiensi sistem penyaluran terbatas.
Perkembangbiakan seksual
Tumbuhan vegetatif yang baru diuraikan adalah generasi gametofit atau seksual yang menghasilkan sel-sel kelamin atau gamet
Gametangium; anteredum jantan dan arkegonium betina terbentuk berkelompok diujung bantang dikelilingi daun pucuk.
Ateredium tumbuh pada bantang sama tapi cabang beda; ujung batang fertil disebut anteredium dan erkegonium. Anteredium pada batang utama, erkegonium pada cabang lateral.



Diujung pucuk jantan 30 anteredium berkembang berurutan hingga tahap muda, dewasa mudah dijumpai pada cawan anterdium
Pada kematangan sel ujung anteredium menjadi lebih besar dari sel dinding lain dan berfungsi sbg penutup yang koyak saat anterezoid keluar.
Antetredium diselang-seling struktur steril seperti ramput (parafisis) berujung 1 sel dengan banyak kloroplast. (gambar)

Pada ujungcabang lateral betina sekelompok kecil arkegonium bertangkai muncul pada sebuah sel superfisial (gambar d). Diselingi juga oleh jaringan parafisis steril tapi jauh lebih kecil dengan yang ada pada anteredium.
Pembuahan tergantung pada air.
Sporofit
Zigot funaria tidak langsung berkembang menjadi tumbuhan lumut yang berdaun, tapi menjadi suatu struktur penghasil spora; Sporofit. Terdiri atas kapsul spora diatas tangkai yang selalu tidak bercabang dan tidak berdaun (gbr).
Sporofit menempel pada tumbuhan gametofit dan menghasilkan spora haploid yang menjadi tumbuhan lumut baru


Zigot berkembang di dalam venter dan membentuk embrio sporofit berbentuk menjorong (elipsoid yang memiliki titik tumbuh di ujungnya. Ujung bawahnya melubangi bagian dasar venter dan menembus ujung batang tempat arkegonium itu berada. Pemanjangan yang berbentuk belati ini disebut kaki, dan menancapkan sporofit dan menyerap makanan dan air dari jaringan gametofit tetuanya.
Ujung atas; kapsul sopra dan tangkai (seta)
Protonema
Protonema:suatu tahap dimana spora yang bekecambah mula-mula tidak tumbuh menjadi tumbuhan muda, tetapi berkembang melalui tahap juwana.
Protonema ini terdiri terdiri atas sebuah sistem percabangan (filamen) dan beberapa di antaranya tumbuh di atas permukaan tanah dan berwarna hijau sedangkan filamen lain menembus tanah dan mirip rizoid tumbuham dewasa.

Selain membentuk percabangan protonema tumbuh hanya pada bagian ujung-ujungnya, sehingga filamennya teersusun atas satu baris sel yang ujung-ujungnya sinambung
Lambat laun membentuk cabang lateral pendek yang ujungnya berbentuk piramid.
Pembelahan ujung dengan tiga bidang sel membentuk tumbuhanlumut mudah.
Dari sebuah protonema akan muncul banayak kuncup.
Protonema mati setelah tumbuhan lumut mudah mengembangkan rizoidnya.



PTERIDOPHYTA
Sporofit yang menonjol
Sporofit memiliki sistem pembulu yang menonjol (xilem, floem berkembang dengan baik).
Mampu mencapai ukuran jauh lebih besar dari gametofit.
Berbeda dgn tingkat evolusi berikutnya (tumbuhan biji) dlm hal perkembangbiakan dgn spora bukan dgn biji.

Mencakup tiga kelompok utama;
Paku (Subdivisi Steropsida, kelas Filinaceae)
Paku ekor kuda (Subdivisi Sphenopsida)
Lumut Gada (Subdivisi Lycopsida)
(kekrabatan ketiga tumbuhan ini tidak begitu dekat. Pada zaman devon 350 juta tahun lalu sudah di bedakan) Dalam bab ini yang dibahas hanya paku dan lumut gada).


Perbedaan Haploid dan Diploid
Tumbuhan yang fase haploidnya menonjol seperti briofita, perkembangbiakannya tergantung pada kelembaban.
Perbedaan umum lumut gada dan paku
lumut gada berdaun kecil, tunggal dan banyak bukan berdaun besar dan majemuk
Sporangium tidak terletak dibagian bawah daun dan dalam jumlah besar melainkanm satu-satu dibagian atas sporofil khusus, yang bertumpuk rapat sekitar ujung cabang tertentu yang membentuk suatu struktur (rujung ataustrobilus)







LUMUT GADA






MIKROSPORANGIUM BERISI SEJUMLAH BESAR SOPRA KECIL (MIKROSPORA)
MEGASPORANGIUM BERISI SEJUMLAH KECIL SPORA BESAR (MEGASPORA)
KEDUA MACAM SPORANGIUM INI TERDAPAT PADA STROBILUS YANG SAMA
- TUMBUHAN YANG MENGHASILKAN MIKROSPORA DAN MEGASPORA DISEBUT TUMBUHAN YANG HETEROSPORI

SPORANGIUM TERSUSUN ATAS 1 TANGKAI PENDEK, SEBUAH SPORANGIUM SETEBAL DUA SEL, SEBUAH LAPISAN TUNGGAL SEL-SEL HARA (TAPETUM) DAN SEBUAH MASSA TENGAH BERUPA SEL-SEL INDUK SPORA YANG MEMBELAH DIRI SECARA MEIOSIS DAN MEMBENTUK SPORA HAPLOID.
DI DALAM MIKROSPORANGIUM, HAMPIR SEMUA SEL INDUK MENGALAMI MEIOSIS DAN MEMBENTUK SEJUMLAH BESAR MIKORSPORA
DI DALAM MEGASPORANGIUM MULA-MULA TERDAPAT BANYAK INDUK SPORA YANG MENGALAMI DEGENERASI KECUALI 1 BUTIR YANG MENJADI BESAR DAN MEMBELAH DIRI SECARA MEISOSIS MENJADI TETRAD
- DEGENERASI SEL INDUK MEGASPORA DI DALAM MEGASPORANGIUM MENUNJUKAN SUATU KEADAAN HETEROSPORI BEREVOLUSI MENJADI HOMOSPORI

GAMETOFIT

ANTEREDIUM TERUS MEMBELA DALAM DINDING MIKROSPORA DAN BERDEFERENSIASI MEMBENTUK MASSA SEL MENJADI ANTEREDIUM TUNGGAL. ANTEREDIUM TERDIRI ATAS SEBUAH LAPISAN LUAR BERUPA SEL-SEL JAKET YANG STERIL DAN MASA BAGIAN DALAM BERUPA ANTEROZOID BERFLAGEL DUA
- PERKEMBANGAN MIKROSPORA MENJADI GAMETOFIT JANTAN, SELURUHNYA TERJADI DISEBELAH DALAM DINDING MIKROSPORA




INTI MEGASPORA MEMBELAH MEMBENTUK DINDING DAN MENGHASILKAN SEJUMLAH BESAR INTI YANG BERKELOMPOK PADA UJUNG SPORA
- KEMUDIAN DINDING TERBENTUK SEKITAR INTI SEHINGGA SAT SERPIH AJRINGAN BERKEMBANG DALAM MEGASPORA, PADA TAHAP INI MEGASPORA ROBEK DAN MENGUAKAN SEBAGIAN PROTALUS BETINA DAN BERKEMBANGLAH ARKEGONIUM DLM JUMLAH BESAR

Pembuahan dan perkembangan individu
- PEMBUAHAN BIASANYA TERJADI DIATAS TANAH DALAM KEADAAN BASAH, ANTEROZOID YANG BERENANG BEBAS TERTARIK PADA ERKEGONIUM DAN MEMASUKINYA MELALUI LEHERNYA SERTA MEMBUAHI SEL TELUR. ZIGOT YANG TERBENTUIK; SEBAGAI SEL PERTAMA DARI GENERASI SPOROFIT BARU, MELALUI PERKEMBANGANNNYA LANGSUNG MENJADI EMBRIO. PEMBELAHAN PERTAMA ZIGOT TERJADI MENYILANG POROS MEMANJANG ARKEGONIUM, DASN MENGHASILKAN SEL ATAS DAN SEL BAWA.

- EMBRIO SEJATI BERKEMBANG DARI SEL BAWAH, SEDANGKAN SEL ATAS (SUSPENSOR) MEMULAI PERTUMBUHAN SELANJUTNYA MENDESAK EMBRIO KE JARINGAN PROTALUS. EMBRIO SEGERA TERORGANISASI MENJADI POROS AKAR BANTANG YANG MULA-MULA DIBERI MAKAN OLEH ALAT SEMENTARA YANG DISEBUT KAKI. KAKI INI MUNCUL SEBAGIA SEBUAH PENONJOLAN EMBRIO PADA SISI BERSEBRANGAN DENGAN SUSPENSOR, DAN MEMBENAMKAN DIRI BAGIAN DIBAWAH PROTALUS TEMPAT MENYERAP MAKANAN UNTUK EMBRIO. KETIKA POROS EMBRIO MEMANJANG, POROS INI AKAN MENEMBUS JARINGAN PROTALUS SAMPAI MENCUAT MELALUI RETAKAN PADA DINDING MEGASPORA. DARI TAHAP PERKEMBANGAN INI KE TAHAP PERKEMBANGAN SELANJUTNYA PROTALUS BETINA BERDEGENERASI, SEDANGKAN EMBRIO MEMANTAPKAN DIRI SEBAGAI SPOROFIT MUDA YANG BEBAS.



BRIOPHYTA
Briophyta: Divisi tumbuhan darat yang jelas batasannya dan tidak memiliki hubungan kekerabatan erat dengan tumbuhan lain dari dunia tumbuhan
BRYOPHYTA MENCAKUP:
Lumut daun (musci)
Lumut hati (hepaticae)

Ukuran
paling kecil, hampir tidak dapat dilihat tanpa bantuan alat pembesar
Paling besar (50 cm)
Habitat:
pohon, batu, kayu glondongan, dll (kecuali di laut)
Hidup subur pada lingkungan lembab
Tumbuhan darat (kutin pada spora)
Struktur tubuh
Lumut daun memiliki batang berdaun
Lumut hati sebagian, memiliki batang berdaun, sebagian (yang bertalus), tubuh tumbuhannya berupa talus.
Tidak memiliki akar sejati
Rizoid
Memiliki pembulu terpusat pada batang
Tidak ada trakeid/pembulu & xilem, floem
Briophyta dibedakan dari tumbuhan darat berdasarkan
Struktur

Daur hidup

Daur hidup
Pergiliran keturunan antara;
Seksual (generasi gametofit yang berbiak secara seksual)
Asesksual (generasi sporofit yang berbiak dengan spora)

Lumut Hati
Berbeda dengan lumut daun dari;
Dari struktur generasi sporofitnya
Pada generasi gametofitnya.
Semua lumut daun memiliki daun sedangkan lumut hati ada 2 macam
Yang berdaun
Bertalus.

Lumut hati yang berdaun dibedakan dari lumut daun terletak pada tulang daun yang ada pada lumut daun. Sedangkan lumut hati walaupun berdaun tetapi tidak memiliki tulang daun dan hampir selalu melata sedangkan lumut daun tegak.
Marchantia
Strukturnya berbentuk payung
Pada keadaan vegetatif terdiri atas sebuah talus hijau berbentuk pitah, lebarnya kira1-1,5 cm

Struktur talus
Tebal talus terdiri atas banyak sel dan tersusun atas tiga lapisan yang jelas kelihatan, yaitu lapisan fotosintesis di sebelah atas, lapisan penyimpan ditengah dan lapisan penyerap dan jangkar di sebelah bawah




TUMBUHAN BIJI TERBUKA (GYMNOSPERMAE)
GYMNOSPERMAE
PAKU BIJI
TUMBUHAN FOSIL YANG TELAH HIDUP DALAM ZAMAN DEVON, DAN MENCAPAI PUNCAK PRKEMBANGAN PADA ZAMAN KARBON DAN TELAH PUNAH DALAM ZAMAN MESOZOIKUM.
CIRI-CIRI PAKU BIJI
Mengambil tempat antara pteridophyta dan gymnospermae.
Daunnya menyerupai daun tumbuhan paku. Sporofitnya menyerupai daun biasa tetapi belum terkumpul menjadi bunga
Batang kecileperti liana tumbuh tegak dan mempunyai xilem yang eksark atau endark dengan pertumbuhan menebal.

CIRI-CIRI PAKU BIJI
Kayu sekunder mempunyai trakeida dengan nokhta-nokhta halaman dan jari-jari teras yang lebar.
Pembentukan biji dari mikrosporangium; suatu sifat yang menentukan utnuk menempatkan golongan tumbuh-tumbuhan ini dalam tumbuhan biji.
TERDAPAT 2 SUKU
1. Lyginopteridaceae. Batang ada yang memanjat, tidak atau sedikit bercabang, mempunyai teras dan tidak. Unsur-unsur kayu tersusun radier. Akar dan bantang mempunyai kambium dan memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Tajuk pohon berbentuk kipas. Bakal biji mempunyai piala. Cth. Lyginopteris oldhamia

2. Medullosaceae. Batang mempunyai banyak stele, masing-masing memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Bakal biji tidak mempunyai piala.
Disamping kedua suku ini ada golongan telah punah yang masih dekat hubungan kekerabatn dengan pteridospermae, tapi dimasukkan dalam kelompok sendiri yaitu dalam bangsa Cytoniales, daun bertangkai, pada ujung terdapat 3-6 segmen. Daun2 fertil mempunyai segmen2 menyirip, ujung menyirip, ujungnya melengkung (merupakan suatu lekukan yang didalamnya terdapat beberapa bakal biji). Jalan masuk berupa celah yang berfungsi sebagai kepala pitik.



TUMBUHAN BIJI TERBUKA (GYMNOSPERMAE)
GYMNOSPERMAE
PAKU BIJI
TUMBUHAN FOSIL YANG TELAH HIDUP DALAM ZAMAN DEVON, DAN MENCAPAI PUNCAK PRKEMBANGAN PADA ZAMAN KARBON DAN TELAH PUNAH DALAM ZAMAN MESOZOIKUM.
CIRI-CIRI PAKU BIJI
Mengambil tempat antara pteridophyta dan gymnospermae.
Daunnya menyerupai daun tumbuhan paku. Sporofitnya menyerupai daun biasa tetapi belum terkumpul menjadi bunga
Batang kecileperti liana tumbuh tegak dan mempunyai xilem yang eksark atau endark dengan pertumbuhan menebal.

CIRI-CIRI PAKU BIJI
Kayu sekunder mempunyai trakeida dengan nokhta-nokhta halaman dan jari-jari teras yang lebar.
Pembentukan biji dari mikrosporangium; suatu sifat yang menentukan utnuk menempatkan golongan tumbuh-tumbuhan ini dalam tumbuhan biji.
TERDAPAT 2 SUKU
1. Lyginopteridaceae. Batang ada yang memanjat, tidak atau sedikit bercabang, mempunyai teras dan tidak. Unsur-unsur kayu tersusun radier. Akar dan bantang mempunyai kambium dan memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Tajuk pohon berbentuk kipas. Bakal biji mempunyai piala. Cth. Lyginopteris oldhamia

2. Medullosaceae. Batang mempunyai banyak stele, masing-masing memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Bakal biji tidak mempunyai piala.
Disamping kedua suku ini ada golongan telah punah yang masih dekat hubungan kekerabatn dengan pteridospermae, tapi dimasukkan dalam kelompok sendiri yaitu dalam bangsa Cytoniales, daun bertangkai, pada ujung terdapat 3-6 segmen. Daun2 fertil mempunyai segmen2 menyirip, ujung menyirip, ujungnya melengkung (merupakan suatu lekukan yang didalamnya terdapat beberapa bakal biji). Jalan masuk berupa celah yang berfungsi sebagai kepala pitik.